Baring Bank – White Collar Crime

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berbagai macam kasus penyalahgunaan kepentingan dari bergbagai macam pihak yang memegang wewenang lebih dalam bergabagai macam bidang. Kasus yang cukup menghebohkan terjadi pada bank century yang masih banyak mengandung misteri dan penyelewengan dana yang dilakukan oleh Malinda. Pada kenyataanya kejahatan semacam itu bukan hanya terjadi pada tahun-tahun belakangan ini, sebuah bank besar yang sudah berdiri selama ratusan tahun, Baring Bank.

Kejatuhan Baring bermula dari tindakan berani dan sangat spekulatif yang  dilakukan Nick Lesson, 28, general manager Barings Future LTd, yang berkedudukan di Singapura. Bank of England sebenarnya sudah berusaha mengambil berbagai langkah untuk menyelematkan bank tersbut. Tiga bank kliring di Inggris, National Wesmiester, Barelays, dan HSBC Holdings, telah mengadakan pendekatan untuk membeli seluruh atau sebagian aset bank itu. Mereka juga melibatkan sejumlah lembaga keuangan Eropa dan Amerika, termasuk The Union Bank Of
Switzerland, Deutsche Bank, Morgan Stanley, danJP Morgan. Kerugian yang dialami bank itu ternyata lebih besar dari modal dasar yang dimiliki, yakni US$560 juta. Sedangkan total aset yang tercatat sebekitar US$9,6 miliar sejak 1993.

Barings Bank didirikan sejak tahun 1762 oleh Sir Francis Baring dan menjadi bank dagang paling tua di Inggris. Barings Bank kolaps pada tahun 1995 akibat menanggung kerugian, yang sangat jauh di atas modalnya. Hal tersebut disebabkan karena tidak mampu memenuhi kewajiban trading, yang dibuka Leeson atas nama Bank tersebut. Nicholas William Leeson, yang popular disebut Nick Leeson melakukan transaksi gelap, yang sebetulnya di luar kewenangannya pada tahun 1992, segera setelah dia diperkenankan melakukan trading derivative di Barings Futures Singapore (BFS), unit bisnis Baring Bank yang menjalankan aktivitas Bank tersebut di Simex (Singapore International Monetary Exchange).

Sebagai trader, Leeson bertugas mengambil posisi proprietary (transaksi untuk akun sendiri) baik di kontrak opsi maupun kontrak berjangka di SIMEX. Leeson melakukan transaksi di luar wewenangnya. Namun dia dipandang sebagai anak ajaib (wonder boy) di London, turbo-arbitrageur yang single-handedly pada tahun 1993 menyumbang setengah laba BFS, dan setengah laba Barings pada tahun 1994, karena dia memanipulasi laporan. Padahal pada akhirnya bukti menunjukkan bahwa pada tahun 1994, Leeson menyebabkan Barings rugi USD 296 juta (tapi dia melaporkan untung USD 46 juta), sehingga Leeson diusulkan mendapat bonus sebesar USD 720.000

Ulah Leeson mulai terkuak pada tanggal 23 Februari 1995 ketika ia pergi ke Kuala Lumpur. Pada hari itu, auditor Barings Bank akhirnya menemukan penipuan yang dilakukan Leeson. Hari itu juga Chairman Barings, Peter Barings, menerima catatan pengakuan Leeson. Nasi sudah menjadi bubur. The Bank of England pada akhir pekan itu mencoba mem bailout, tetapi tak berhasil, dan Barings dinyatakan insolvent pada hari Minggu, tanggal 26 Februari 1995. Administrator yang ditunjuk mulai mengambil alih kendali Barings Group dan anak perusahaannya. Setelah dikalkulasi, aktifitas Leeson mengakibatkan kerugian sebesar USD 1,4 miliar, dua kali lipat dari modal dagang Bank tersebut. Akhirnya, ING Banks (Belanda) membeli Barings Bank pada tahun 1995 dengan nilai transaksi tunai GBP 1 tetapi ING memikul semua kewajiban Barings dan terbentuklah ING Barings sebagai anak perusahaan ING.

Kondisi Barings yang memungkinkan terjadinya penggelapan oleh Leeson

Kondisi yang mendukung atau memungkinkan terjadinya penggelapan oleh Leeson, sesuai hasil kesimpulan Badan yang dibentuk oleh Bank Sentral UK, untuk menyelidiki skandal Barings, antara lain:

1. Manajemen puncak Barings kurang paham soal bisnis proprietary (transaksi untuk kepentingan sendiri). Jika auditor dan manajemen puncak Barings memahami bisnis trading, mereka pasti tahu bahwa mustahil bagi Leeson memperoleh laba sebesar yang dia laporkan, jika tak mengambil risiko yang lebih besar pula. Dan semestinya manajemen puncak dan auditor mempertanyakan darimana asal laba tersebut. Kurangnya pengetahuan Barings tentang bisnis trading memang beralasan mengingat kebanyakan manajer senior Barings memiliki latar belakang merchant banking. Para anggota Assets and Liability Committee (ALCO), yang memantau risiko pasar, menyatakan kepeduliannya soal besaran posisi yang diambil Leeson, tapi kemudian merasa nyaman dengan pikiran bahwa eksposure Barings atas risiko pasar relatif kecil karena Leeson melakukan hedging atas posisi tersebut.

2. Tidak ada mekanisme Checks and Balance internal. Manajemen Barings melanggar aturan penting dalam bisnis trading, yaitu membiarkan Leeson melakukan settlement atas transaksi yang dilakukannya sendiri. Hal ini terjadi karena Leeson memegang wewenang di dealing desk dan back office. Secara singkat seharusnya back office melakukan pemeriksaan yang diperlukan untuk mencegah transaksi tidak sah dan meminimalisasi potensi penipuan dan penggelapan. Karena Leeson mengontrol back office dan karena Barings tidak memiliki unit independent untuk mengecek keakuratan laporan Leesons, maka laporan tentang risiko pasar yang dihasilkan oleh unit manajemen risiko Barings menjadi tidak akurat.

3. Pengawasan karyawan yang lemah. Leeson belum pernah memiliki lisensi untuk melakukan transaksi sebelum penugasannya ke Singapura, namun aktifitasnya hanya mendapat sedikit pengawasan dan tidak ada individu khusus yang secara langsung bertanggung jawab memantau strategi transaksi Leeson. Selain itu, Leeson banyak melakukan transaksi yang sebetulnya di luar wewenangnya, seperti pembelian dan penjualan opsi.

4. Kurangnya jalur pelaporan yang tegas. Transaksi illegal Leeson mungkin terfasilitasi oleh kekisruhan yang disebabkan adanya dua garis pelaporan: satu ke London untuk transaksi proprietary, dan ke Tokyo untuk transaksi yang dilakukan atas nama nasabah.

5. Prosedur kontrol Barings sangat jelek. Ini terlihat ketika menutup kerugian dari posisi yang dibuat secara illegal oleh Leeson. Kantor Pusat tidak mewajibkan Leeson membedakan antara variasi margin yang diperlukan untuk menutup posisi sendiri dan transaksi atas nama nasabah. Barings juga tidak memiliki sistem untuk mengkonsolidasikan dana yang diminta Leeson dengan posisi yang dia laporkan. Apabila Kantor Pusat di London telah menggunakan program penetapan margin yang disebut Analisis Risiko Portfolio Standard (Standard Portfolio Analysis of Risk) untuk menghitung margin, Kantor Pusat akan menyadari bahwa jumlah uang yang Leeson minta jauh lebih besar daripada aturan margin yang ada di SIMEX.

6. Tidak ada batasan transaksi. Barings tidak menetapkan batasan untuk posisi transaksi proprietary Leeson karena merasa tidak menanggung risiko pasar untuk transaksi arbitrase. Memang transaksi arbitrase hanya terpapari risiko pasar yang sangat kecil, tetapi transaksi tersebut mengandung risiko dasar dan risiko settlement. Risiko dasar terjadi jika harga di dua pasar tidak selalu bergerak bersamaan atau dengan laju yang sama, sedangkan risiko settlement terjadi karena pasar yang berbeda memiliki sistem settlement yang berbeda, sehingga hal ini bisa menciptakan risiko liquidity dan pendanaan.

Risiko funding terjadi, berasal dari penemuan, bahwa banyak posisi dibiarkan tidak dihedging. Risiko funding ini juga yang menenggelamkan Metallgesellschaft, sebuah perusahaan manufacturing Jerman pada tahun 1993. Kisah mengenai Barings dan Metallgesellschaft menunjukkan perlunya sebuah institusi memberi perhatian lebih besar pada kebutuhan pendanaan sementara untuk posisi yang sudah di hedged, maupun yang hanya setengahnya di hedged.

Manajer senior Barings terus mendanai aktivitas Leeson karena mereka mengira bahwa mereka membayar margin untuk posisi yang sudah di hedged, padahal mereka mereka sebenarnya merugi pada transaksi langsung. Metallgesllschaft di sisi lain, menolak memberikan pembiayaan sementara karena mereka mengira menderita rugi di kontrak yang sebenarnya di hedged. Kedua insiden ini menggambarkan perlunya manager senior lebih paham tentang posisi hedging.

7. Terpapari risiko kredit. Implikasi risiko kredit ditunjukkan dari pencairan dana tambahan ke nasabah, yang digunakan untuk memenuhi margin call. Namun departemen kredit tidak mempertanyakan mengapa Barings meminjamkan lebih dari USD 500 juta ke nasabahnya untuk bertransaksi di SIMEX, dan hanya menghasilkan return 10 persen. Juga tak jelas yang dimaksudkan Leeson untuk dibiayai, namun kerugian Barings akan sangat signifikan jika nasabah ini mengalami wanprestasi.

Komite Kredit di bawah pimpinan George Maclean bersikeras bahwa menjadi kebijakan Barings untuk membiayai transaksi margin oleh nasabah sampai bisa ditagih. Tapi tak ada batasan jumlah dana tambahan per nasabah. Nasabah yang meminjam dana dengan cara ini jelas tidak menjalani proses persetujuan kredit.

Bangkrutnya Bank tertua UK adalah contoh dari risiko operasi, yaitu risiko kelemahan dalam sistem informasi atau kontrol internal. Tulisan ini, saya ambil dari tulisan di majalah Stabilitas, sebagai pembelajaran bagi kita, betapa pentingnya sebuah sistem yang dapat mengontrol operasional suatu Bank, ataupun sebuah perusahaan. Built in control diperlukan, agar selalu terjadi check and balance secara internal, yang memungkinkan setiap kali terjadi kesalahan dapat segera di deteksi.

Sumber Bacaan:

Jaka Eka Cahyono. “Learning Leeson’s Lesson. Majalah Manajemen Risiko; Satbilitas. Edisi no.29 tanggal 15 April-15 Mei 2008 hal.30-32 dan edisi no.30 Mei-Juni 2008 hal.42-45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s