NARSISISME

Suatu sore dibilangan Jakarta Kota, beberapa remaja asik bergaya dengan latar belakang gedung – gedung kuno. Seorang teman tersenyum simpul sambil berkata, “narsis!”. Belakangan ini banyak kata yang asing ditelinga dan digunakan untuk mengistilahkan sesuatu, salah satunya adalah kata narsis. Seperti yang terjadi pada situasi diatas, narsis biasanya digunakan untuk mengistilahkan orang yang mungkin secara berlebihan percaya diri dalam mengekpresikan dirinya.

Tapi apa apa sih arti narsis atau nasrisme sebenarnya, mari kita ulas bersama. Konsep dan istilah narsisisme berawal dari sebuah mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan dari Thespian bernama Narsisus yang ditakdirkan untuk hidup hingga ia melihat dirinya dan jatuh hati pada citra diri yang dilihatnya.

Berdasarkan mitologi tersebut maka berkembanglah konsep narcisism atau narsisisme yang pada mulanya digunakan untuk menggambarkan orang yang jatuh cinta dengan citra dirinya sendiri. Pada tahun 1899, Paul Nacke, seorang psikiater berkebangsaan Jerman menggunakan istilah Narcismus yang merujuk pada “attitude of a person who treats his own body in the same way as otherwise the body of sexual object is treated. ”. Dengan perkataan lain , seseorang mengalami kenikmatan seksual pada saat menatap, membelai dan mencintai tubuhnya. Konsep narsisisme dari Nacke inilah yang kemudian menjadi dasar bagi konsep narsisisme yang digunakan oleh Freud (1914). Dalam teori Freud, narsisisme tidak hanya mengenai perilaku abnormal dalam kehidupan seksual individu, tetapi lebih menekankan pada instink untuk melindungi diri sendiri (self perseveration) yang ada pada setiap makhluk hidup. Dalam bidang klinis, Freud (dalam Raskin & Terry, 1988) menggunakan konsep narsisime dalam kategori diagnostik untuk menggambarkan fenomena perilaku sebagai berikut :

  • Sikap seseorang terhadap dirinya sendiri, misalnya cinta terhadap diri sendiri (self love), mengagumi diri sendiri (self admiration), membesar-besarkan diri sendiri/ perilaku ekspansif (self aggrandizement)
  • Kerentanan self esteem seseorang yang meliputi ketakutan akan kehilangan cinta dan ketakutan akan kegagalan
  • Orientasi pertahanan diri yang meliputi megalomania, idealisasi, penyangkalan (denial) dan proyeksi
  • Kebutuhan untuk dicintai, memenuhi diri sendiri (self sufficiency) dan kebutuhan untuk menjadi sempurna
  • Dalam hubungan dengan orang lain memperlihatkan sikap yang menunjukkan bahwa dirinya “lebih” dari orang lain

Sumber :

Freud, Sigmund. 1914. On Narcissism : An Introduction. New York : Basic Book, Publishers

Lasch, C. 1979. The Culture of Narcissism. American Life in an Age of Diminishing Expectation. New York : W.W. Norton & Company

Raskin, R., Howard Terry. 1988. A principal-components analysis of the Narcissistic Personality Inventory and Further Evidence of Its Construct Validity. Journal of Personality and Social Psychology, 54, 890 – 902

Siegel, Alan M. 1996. Heinz Kohut and The Psychology of The Self. London : Clays.Ltd

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/kepribadian-mainmenu-61/narsisisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s