Jazira in Action!

Koridor kampus yang tengah ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berkelompok-kelompok membicarakan berbagai macam hal itu, tiba-tiba saja hening. Kini yang terdengar hanya irama ketukan high heels yang beradu dengan lantai keramik kampus, seseorang berambut panjang menjuntai terlihat membenarkan letak tas yang menggelayut indah dibahunya yang anggun, kemudian ia kembali terfokus pada hp barunya yang telah berkelap-kelip karena baru saja mendapat sinyal pesan entah dari orang diseberang belahan bumi mana. Wanita itu tersenyum membaca rangkaian huruf dilayar hp-nya.

Mata laki-laki dan perempuan yang ada seolah mendramatisir keadaan sehingga semuanya terfokus pada wanita tadi. Pakaian modis, style-nya yang santai dan percaya diri, serta pembawaannya yang nyaman menyisakan obrolan menarik untuk setiap orang yang melihatnya.

“wiihh, cadass… kaki jenjang, badan bagus, muka cakep,,, mantaappp!” Donovan membuka topic pembicaraan dengan genknya.

“agh, berat punya cewe model dia mah! Kantong mesti tebel! Mimpi!” Rei membalas pesimis, itu obrolah dari sisi kelompok pria.

“bajunya kerenn Ra, besok kita ke Margo yuk! Gua mau beli, atau… gua denger cewe itu juga jual baju – baju keren via online ” Vena sumringah melirik Tira, sahabatnya.

“agh, songong tuh gayanya, kekampus aja udah kaya model gayanya! Belagu!” Tira menyandarkan dirinya ke dinding.

“ah, lo mah sirik aja! Pokoknya gua harus punya baju model gitu, ngomong-ngomong high hellsnya juga keren deh!” lanjut Vena yang masih mengagumi sosok wanita tadi.

Wanita yang sejak tadi terus diperhatikan orang berbelok dan memasuki sebuah kelas. Senyumnya kembali mengembang dan menyapa teman-teman sekelas yang juga melirik kearahnya. “maaf ini kelasnya ibu Saina Pradesti kan, untuk mata kuliah soft skills management?” ucapnya sopan. Beberapa orang mengiyakan dan membalas senyum kearahnya. “perkenalkan, saya Jazira!” lanjutnya lagi sambil sesekali menyibakan rambutnya kebalik punggung.

“ Punya FB ga Ziiee?” terdengar sayup suara dari arah belakang, “twitter?” lanjut yang lain. “blog?” “PIN bbm?”  semuanya ber-huuu ria. Kelas yang belum ada dosen itu kembali ramai. Jazira ikut terhanyut suasana, ia tertawa membalas pertanyaan beberapa orang teman barunya. “search aja nama gua! Hehee… Jazira Lee Hermawan, di FB, Twitter, klo blog www.jazzie.wordpress.com, kalo pin BBM 212212,” jawabnya sambil tertawa.

“Eksis banget lo! Urban community nih kayanya!” celetuk seorang wanita berkacamata sedikit sinis.

“Sosialisasi itu perlu kan? Toh jadi kaum urban juga ga jelek, asal kita bisa me-maintain semuanya dengan baik, why not?” jazira duduk dibangkunya dan kembali terhanyut dengan HP tipe terbarunya untuk melakukan conrifm pada beberapa orang yang langsung add facebook dan mem-follow twitternya.

Bagi jazira mendapat tatapan sinis, kagum, aneh dan semacamnya itu sudah biasa ia dapatkan. Tak banyak teman-temannya yang komplaint akan tetapi tak banyak juga yang menyukainya dan menyatakan kekagumannya. Urban atau bukan itu tak masalah, yang penting ia nyaman dan menyukai dirinya sendiri. Ia memang aktif dan senang mengikuti beberapa komunitas urban.

Banyak orang berfikir negatif mengenai kaum urban yang Jazzie termasuk kedalam komunitas urban itu, “Heh gadget freak!!! Lebaii, dikit – dikit update, sebentar –  sebentar browsing, sumpah lebaii!!! Autis, freak!!!” jazzie kaget ketika ia berjalan dan mendapatkan serentetan kata – kata yang tak mengenakan didengar. Sebentar ia melirik kearah wanita siempunya kata-kata tadi, kemudian tersenyum sinis kearahnya, “Bilang aja lo ngiri karena ga punya!” Jazzie berlalu dan meninggalkan senyum sinis penuh makna sebelum meninggalkan wanita tadi.

Jazzie memang waniita yang cukup update dengan perkembangan teknologi terutama perihal gadget, tapi semua gadget yang ia punya bukan semata hasil pemberian orang tuanya, itulah yang tidak banyak diketahui orang. Jazzie sibuk dengan dunianya, hampir setiap hari jazzie selalu pulang lewat dari jam 12. ia merupakan seorang disk joker pada beberapa club dan cukup aktif pada komunitas urban para dj. Pergaulan malam yang selalu dikonotasikan negatif membuat orang – orang disekelilingnya juga berfikir negatif tentang dirinya.

“Papa sudah bilang berapa kali zie?? Kuliah saja yang bener! Ga usah pake DJ – DJ’an segala!” jazzie duduk santai dihadapan mamanya yang justru terlihat tegang. “Iya sayang… apa kata orang setiap malam liat kamu selalu pulang subuh gini, tinggalin dunia malam itu!” lanjut sang mama dengan tatapan sedih.

Jazzie menatap kedua orang tuanya satu per satu. “Papa – Mama ga percaya sama zie? Aku memang pulang subuh, tapi aku bisa jaga diri, aku emang di club malam, tapi itu semua ga seperti yang mama papa pikirin, aku cuma jadi disk jokey, Cuma itu, ga lebih dan ga macem-macem! Toh papa – mama taukan, hasil dari itu semua udah zie pake untuk uang jajan zie sehari –hari, beli gadget dan…”

“ Biar papa yang penuhi keinginan kamu semua itu, pokoknya mulai besok ga ada lagi kerja partime jadi DJ! Pulang kuliah ya langsung pulang, no more!” Papa mengeluarkan sikap aslinya yang tidak pernah mau kalah.

Hari – hari zie selanjutnya suram, sepi. Riuh rendah suara dentum musik yang biasanya akrab ditelinga menjadi lenyap, kebosanan tingkat tinggi yang didera jazzie membuatnya menjadi lebih autis bersama gadget – gadget hasil jerih payahnya menjadi disk jokey selama 3 tahun semenjak ia kelas 2 SMA. jazzie menemukan sebuah komunitas baru yang menggelitiknya.

Ketika itu Jazzie tengah asyik berjalan melewati sebuah gelanggang remaja dan berniat untuk singgah sebentar melihat beberapa kegiatan yang ada didalamnya. Jazzie berdiri ditepi sebuah ruangan yang diisi dengan bunyi gamelan, hanya ada dua anak yang tengah asyik mengikuti instrukturnya menari dengan santai. Ketukan gamelan yang tak asing yang sering diperdengarkan Papa melalui koleksi album campursarinya.

Sekitar dua jam Jazzie asyik tersenyum dan beberapa kali tangannya mengikuti lekak – lekuk tangan si penari, ia merasa nyaman dan sangat tertarik dengan tarian daerah asal kedua orang tuanya ini. “Sore..” seseorang dengan akses kental jawa tengah yang halus menyadarkan Jazzie bahwa kehadirannya ternyata diperhatikan. “Soree Mbak ayu… hm… boleh saya bergabung dikomunitas tari mbak? Saya sangat tertarik dan merasa nyaman mendengar musik itu!” sikap Jazzie yang atraktif kembali mencuat dan membuatnya tanpa ragu mengakui ketertarikannya pada tarian itu.

Selesai mengikuti sesi tari singkat pertamanyi, kini Jazzie mengayuh sepeda fixienya lagi dan berhenti pada sebuah taman yang sepi pengunjung. Ia langsung mengambil HP dan meng-update account twitter dan facebooknya pada saat yang bersamaan. “Tarii eksotik yang menggetarkan, let’s join with me in sanggar kania! It was soo eksotik dance!” kebiasaan Jazzie meng-update account jejaring sosialnya memang cukup intens, namun isi dari setiap statusnya bukan berupa hal-hal negatif yang tengah ia rasakan, bukan hanya sekedar mengabarkan kegalauannya pada banyak orang, Jazzie lebih suka untuk membagi pengetahuan dan berbagi pengalaman menarik yang positif, tak jarang juga Jazzie malah mempromosikan beberapa produk dagangannya, tanpa sepengetahuan orangtuanya Jazzie berbisnis pakaian, seleranya yang bagus pada pakaian membuat banyak teman mempercayakannya sebagai konsultan style kecil-kecilan sekaligus distributor pakaian – pakaian trendi yang selalu menarik dan disukai para teman – temannya.

Hari ini jazzie kembali mendapat tatapan sinis dari orang yang sempat meneriakinya gadget freak. Hari ini matakuliah tentang kewarganegaraan dan sedang fokus pada materi wawasan nusantara. Kebetulan dosen pelajaran ini adalah dosen yang lebih mengutamakan pemahaman kita tentang materi dan beliau lebih suka untuk berdiskusi ketimbang berbicara sendiri menerangkan lembar demi lembar kertas transparan atau slide power point. “Ada yang mau berbagi tentang wawasan nusantara?” seperti biasa Pak Rahardja menantang mahasiswanya untuk berbicara. Jazzie mengangkat tangan kanannya, “Saya miris Pak! Kemarin sempat tanpa sengaja melihat keadaan sebuah sanggar tari tradisional disebuah gelanggang remaja, pada sanggar itu hanya ada dua orang anak kecil yang tengah belajar menari. Saya malu Pak, sebagai anak bangsa saya tidak ikut melestarikan kebudayaan bangsa saya!” Jazzie tak menghiraukan beberapa cibiran dari teman sekelasnya dibelakang. Hari itu kami sekelas berdiskusi banyak tentang Tarian tradisional dan sisanya Jazzie diprotes beberapa temannya karena ucapannya tentang tarian tradisional yang mulai ditinggalkan, kini mereka sekelas mendapat tugas untuk melakukan interview pada sanggar – sanggar tradisional yang ada. Bukan Jazzie jika ia terpancing dalam suasana yang diciptakan oleh beberapa temannya, kini ia malah sibuk memperlihatkan pakaian model terbaru yang ia release untuk dipasarkan pada konsumen setianya.

Kini Jazzie sibuk didepan laptopnya, menunggu pelatih tarinya yang biasa ia panggil Mbak ayu (mbak cantik) hadir dan bersedia ia wawancarai. Terbesit banyak niat untuk memajukan sanggar tari ini. Sanggar ini telah ada sejak 1984, bukan usia yang muda bagi sebuah sanggar tari, Jazzie melirik Mbak ayu dan sedikit tersenyum, “apa sih yang memasbuat mbak mau tetap eksis mengajar disini, padahal kalo diukur secara materi jelas tak ada apa-apanya, mengingat biaya kursus tari ini hanya TIGA PULUH LIMA RIBU sebulan dengan 4 kali pertemuan.” Jazzie tersenyum kagum. “Kepuasan untuk tetap bertahan dan berperan dalam melestarikan kebudayaan Indonesia dibidang tari inilah yang tak ternilai Zie.. “

Setelah selesai latihan tari, Jazzie langsung mendekati laptopnya dan mengetik banyak hal hasil dari wawancaranya dengan Mbak Kania. Hobinya menulis kini benar-benar sangat membantu Jazzie untuk menulis banyak hal untuk dapat mempromosikan sanggar Kania ini. Setiap selesai latihan Jazzie akan langsung mengetik setiap hal yang baru saja ia pelajari dan meng-uploadnya dalam blog, menjadikannya sebagai tautan di facebook dan twitter. Agh, Jazzie benar-benar ingin sanggar tari ini dikenal dan diminati oleh banyak orang.

Beberapa anak sekelas mendekati Jazzie dan bertanya tentang sanggar tari yang tengah ia promosikan habis-habisan melalui dunia internet. “Udah daftar aja! Kan bukan Cuma cewe doang yang boleh nari, yu bareng gua kok Ri! Cuma 35 ribu doang sebulan!” Jazzie membujuk Ari yang masih bimbang.

Kini Jazzie tengah berada bersama komunitas JIJ (Jogja In Jakarta) –nya tengah asyik mengajar sosial disebuah rumah kardus. Kesibukan Jazzie setelah meninggalkan dunia DJ-nya memang tidak berkurang, ia memang bukan wanita yang akan bahagia jika berada dirumah, menonton televisi seharian dan tidur sepuasnya. Jazzie adalah sosok periang yang selalu berusaha menyibukkan dirinya dengan apapun, termasuk gadgetnya, bahkan ia pernah didiagnosis hyperaktif oleh seorang psikiater, namun pernyataan itu tak pernah dijadikan hambatan oleh kedua orang tuanya, sejak kecil Jazzie memang dididik menjadi wanita yang berani mengutarakan apa yang ia rasakan dan selalu berani mencoba hal baru.

Jazzie memberikan beberapa pesanan baju temannya, “Na, rumah lo deket daerah senen kan?” irna mengangguk seraya membuka plastik dress selututnya dan memastikan dress itu dalam keadaan sempurna. “lo juga punya ade kecil kan? Nih, ada sanggar tari murah yang bagus! Ade lo bukan akan bisa nari doang, tapi dengan belajar tari maka kemampuan psikomotornya akan jadi lebih baik, luwes! Daftar deh! Buat lo juga bisa, tolong disebarin ke tetangga lo ya Na!” Jazzie meninggalkan senyumnya yang ramah dan kembali kekelas asalnya.

Kini ia terang-terangan membuka pendaftaran melalui BBM. Mbak Kania tersenyum kearah murid barunya yang baru sebulan ini selalu bersemangat untuk bisa menari, disebelahnya ada Ari yang juga terlihat begitu tertarik untuk memperdalam dunia tari. “terimaksih banyak Zie… sekarang murid disanggar ini sudah bertambah sepuluh kali lipat! Itu semua berkat kamu…” si mbak ayu melirik muri-murid barunya yang tengah asik menari.

Jazzie tersenyum menyanggah komentar negatif tentang kebiasaan masyarakat urban yang terpengaruh oleh perkembangan gadget, “siapa bilang negatif, kebebasan berekspresi yang bisa kita tunjukan melalui dukungan banyak hal terutama keberadaan gadget yang memudahkan kita untuk melakukan banyak hal—BANYAK HAL! Bukan hanya sekedar update status gak penting, kita juga bisa menjadikan fb, twitter, BBM dan blog sebagai sarana promosi yang ampuh, entah promosi secara komersial atau pun promosi untuk go green, menyemangati orang dengan supprot dan kata-kata yang baik dan memotivasi, semuanya juga bisa kita lakukan disana. Keberadaan komunitas urban  yang sering terabai itulah yang membuat kami ingin show up, ingin dilihat dan diketahui untuk juga memfasilitasi kaum urban lain yang sepaham dengan kami untuk bersatu membudayakan tari, misalnya! Jadi pengaruh perkembangan zaman ini sebenarnya tidak akan jadi masalah bila manusianya sendiri telah membentengi diri dari hal-hal negatif yang jelas akan merugikan dirinya sendiri. Kembali pada indivdu masing-masing, kepada anda! Hm… anda berfikir negatif terhadap perkembangan zaman yang ditandai dengan perkembangan gadget mungkin karena anda belum pernah melaksanakan hal positif dengan gadget – gadget yang anda punya, maka sekarang adalah saat yang tepat untuk anda berfikir hal positif apa yang dapat anda lakukan bersama gadget-gadget yang anda miliki sekarang! Bersenang-senang dan positif thinkinglah…” ucapan Jazzie disambut riuh oleh sebagian besar teman sekelasnya. Ia tersenyum menang dan berusaha menekan kesombongannya. Agh, Jazzie menunduk dan berusaha berdamai dengan hatinya yang begitu kesal pada sosok wanita yang terlihat sangat tidak menyukainya itu.

Pelajaran selesai, Jazzie berjalan menyusuri lorong kampusnya menuju sebuah motor matic classic hasil tabungannya selama ini mengikuti berbagai macam lomba, menjual pakaian, dan sederet pekerjaan freelance yang sering ia ikuti. Baginya, menjadi bagian komunitas urban atau tidak, terbawa arus kemajuan teknologi yang tiada habisnya atau tidak, itu semua adalah pilihan, dan akan selalu ada konsekuensi atas setiap pilihan yang kita ambil. Kini Jazzie telah memilih menjadi bagian dari komunitas urban yang ikut memanfaatkan kemajuan zaman dengan beragam gadget yang mampu menunjangnya melakukan banyak hal, terutama membuatnya menjadi tertantang untuk lebih memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan banyak hal dan promosi utamanya didukung oleh kemajuan zaman, internet melalui gadget-gadget kesayangannya. Apapun kata orang yang penting bagi Jazzie adalah ia bahagia menjalaninya, menjadi gadget freak yang positif dan menjadi bagian komunitas urban tarian tradisional pimpinan si Mbak ayu Kania.

SELESAI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s