Bajakan berserakan dimana-mana,

hampir setiap hari kita dengar penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP, salah satunya adalah penertiban mengenai pedagang kaki lima yang kita khususkan pada pedagang cd bajakan. Bukan rahasia umum lagi bahwa kehadiran dari pedagang cd itu kini mulai biasa kita lihat. Bukan hanya di Glodok atau dipertokoan khusus yang ‘terselubung’. Kini kita dapat menemukan salah satu pelanggaran HaKI itu dimana-mana, bisa di stasiun, dipinggir jalan, dipasar malam dan banyak tempat yang lain.

Kehadiran para pembajak yang semakin marak sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak jika setiap masyarakat telah mampu menghargai dan lebih menghormati atas kekayaan intelektual karya orang lain, seperti contohnya dalam industri musik dan film yang originalnya beredar dalam bentuk CD. Kehadiran CD dan DVD bajakan juga sangat mesahkan masyarakat industri musik, seperti contohnya tahun 1990-an begitu banyak artis yang albumnya mampu terjual hingga 1 juta keping, namun kini penjualan sejumlah itu terasa sangat berat bagi pelaku industri musik.

Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk mengeluarkan singel dan lebih mengharapkan keuntungan dari penjualan RBT (ring backtone ) dari lagu – lagu mereka. Seolah putus asa dalam membujuk masyarakat untuk lebih memilih karya original dan meninggalkan bajakan kini para pemusik hanya bisa mengelus dada dan berusaha bekerjasama dengan berbagai situs musik yang berbayar atau bahkan ada pemusik yang lebih memilih untuk tidak menjual lagunya dalam bentuk CD, Melanie Subuwono, dikutip dari wawancara dalam program kupas abis i-radio ia memberikan alamat situs webnya dan menyarankan para penggemarnya untuk men-download secara gratis kesitus itu.

Banyaknya kehadiran paara pembajak yang seolah dipandang biasa di Indonesia ternyata tidak membuat negara ini menjadi negara dengan kasus pembajakan terbesar. Menurut laporan Music Matters, seperti VIVAnews kutip dari Torrentfreak, 31 Januari 2010, 68 persen pengguna internet di China mengaku telah mendownload musik tanpa membayar. Sebanyak 60 persen warga Korea Selatan menyatakan demikian. Di posisi berikutnya adalah Spanyol. Sekitar 46 persen warganya mengaku mendownload musik ilegal.

Meski laporan tersebut diragukan validitasnya oleh Ministry of Culture, Sports and Tourism. Sampai dilakukan penelitian terhadap laporan tersebut, pemerintah Korea Selatan meminta laporan tersebut untuk diabaikan.

Sebelum ini, di tahun 2009 lalu, Korea Selatan tercantum dalam daftar priority piracy watchlist oleh International Intellectual Property Alliance (IIPA). Anggotanya, termasuk Recording Industry Association of America (RIAA) dan Motion Picture Association of America (MPAA) pertengahan tahun lalu telah meminta pemerintah untuk melakukan tindakan tegas dan pemerintah telah memberlakukan peraturan tegas mengenai pembajakan dengan ancaman hukuman tegas memutuskan hubungan pelakunya dengan internet, dan hal itu meningkatkan penjualan digital sebanyak 50 persen di korea.

Mencontoh keputusan Korea dalam menanggulangi hal yang terjadi dinegaranya mengenai pembajakan, sudah seharusnya Indonesia berbenah diri untuk lebih peduli pada karya Intelektual hasil dari anak negeri. Ketegasan Pemerintah dibutuhkan untuk lebih menekan dan memberikan efek jera pada para pembajak dan pembelinya, sementara peran terpenting sebenarnya dipegang oleh para masyarakat agar lebih mencintai karya original dan menghargai hasil karya anak negeri untuk tidak membeli hal apapun yang bajakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s