chosen_

Rei dan ditya berjalan meninggalkan keluarga mereka yang telah mengantar untuk wisuda, melepas toga dan tersenyum. “akhirnya bro, perjuangan kita selama ini ga sia-sia. Diomelin dosen, ngejar nilai, uas, uts, ujian utama, praktikum, skripsi sidang… wiih, mantap banget dah!” ditya menyeruput teh botolnya. Mereka berada di pinggir jalan bersama kedua motor yang menjadi saksi persahabatan mereka.

“udah empat taun kita bareng terus.. thanks ya… “ rei memukul pundak ditya akrab.

“siph, thanks juga udah sering banget bantu gua soal tugas dan udah mau jadi dosen pembimbing gua buat semua mata pelajaran yang gua ga ngerti… lo emang the best sob!” ditya memandang kosong kedepan, mengenang kebersamaan mereka saat masih menjadi mahasiswa.

——

Beberapa bulan tidak bertemu, mereka hanya berhubungan melalui sms dan terkadang telepon. Kini Ditya bekerja pada sebuah perusahaan furniture besar. Sementara Rei telah diangkat menjadi pegawai sebuah perusahaan advertising, setelah sebelumnya ia menjadi pekerja lepas di perusahaan itu. Hari ini mereka janji bertemu disebuah coffe shop.

Ditya telah bertengger dilokasi favorite mereka, memandang beberapa perempuan yang lalu lalang disampingnya sambil sesekali terfokus pada laptopnya yang mewah.

“wiihhh, baru berapa bulan kerja udah dapet apple ya! Mantap dah!” rei duduk dihadapannya. Mereka terlarut dalam obrolan panjang, bernostalgia dan saling berbincang tentang pekerjaan baru mereka.

“gua mau keluar dari kantor gua! Mau jadi partimer ja, gua mau mewujudkan cita-cita gua bro!” ditya langsung berpaling dari laptopnya kemudian bersandar kebelakang sofa bersiap-siap dengan pertanyaan panjang.

“maksud lo, cita-cita lo yang mau,,,” ditya tak berani melanjutkan kata-katanya.

“ya!” lanjut rei yakin.

Dahulu saat menunggu jam kuliah mereka duduk di koridor kelas dan saling berucap tentang cita-cita mereka. “Gua mau kerja di perusahaan besar dengan karir besar. Jadi manager, eksekutif manager dengan gaji gede, istri cantik, mobil bagus type ferari, setiap weekend lansir ke luar negeri, mantap banget dah!” ditya memandang Vena, cinta dalam hatinya.

“mantep bro, tapi kalo gua simple, gua mau buka usaha yang banyak nyerap tenaga kerja, terus hidup bahagia bareng keluarga gua!” ucap rei.

“sesimple itu?” rei mengangguk. “buka usaha itu butuh modal gede bro! apalagi resikonya gede, trus kita mesti ribet-ribet turun langsung dan mulai dari awal semuanya, perjuangannya besar ga takut bangkrut lo! Emangnya mau usaha apa?” sejujurnya ditya tertarik dengan ucapan rei.

“Bakso!” jawab rei yakin.

“Bakso?? Hahhaaaa… sorry bro, bukannya gua… hahhaaa… gada yang laen? Maap nih bukannya gua ngejelekin cita-cita mulia lo, tapi.. “ rei tersenyum, ia berusaha tetap meyakinkan dirinya.

“lo serius rei? Mau jadi abang tukang bakso?” ditya menunggu ucapan rei. Bukan ia tak mengenal sikap rei yang memang keras kepala dan bertekat keras, tapi ia hanya mau meyakinkan sahabatnya itu.

“lo tau gua gimana, kebetulan tabungan gua udah cukup kalo buat usaha bakso, lagian gua tetap jadi partimer di advertising, jadi setidaknya buat hidup gua sendiri cukuplah!” mendengar jawaban rei, ditya mengeluarkan Hpnya, seperti mencari sesuatu.

“perusahaan gua lagi butuh orang IT, gua bisa rekomendasiin lo buat masuk. Gajinya 5 kali lipat gaji parttime lo! Hayoo lah, kita bareng lagi sekarang!” ditya merasa tak tega membiarkan karibnya menjadi seorang tukang bakso. Rei tersenyum mengerti maksud hati Ditya.

“thanks bro.. tapi ini cita-cita gua! Di advertising gua bisa kerja sesuka hati gua, di bakso ini juga gitu, setidaknya gua mau berjuang keras dulu, gua tau maksud lo, terimakasih… tapi,”

“gua dukung lo! Do it bro! Cuma itu yang bisa gua lakuin buat lo, mendukung lo! Sukses!” ditya menyeruput kopinya. Rei tersenyum, mereka kembali berbincang tentang banyak hal.

—–

setahun telah berlalu, setelah bertemu di coffe shop mereka belum bertemu kembali karena setiap di ajak bertemu Ditya selalu sibuk. Sementara itu Rei terhanyut dengan usahanya, pagi-pagi ia bangun untuk pergi ke peternak lele, olahan utama café le’ miliknya. Ia membuka sebuah warung kecil bernama café le’ semua tentang lele dan makanan olahannya di depan kampus tercintanya. Ia juga tinggal dirumah kecil itu sendiri, bulan pertama produk bakso lelenya mendapat sambutan baik, banyak orang yang penasaran dan mencoba menu itu.

Rei dibantu 3 orang karyawannya yang tinggal di sekitar kampus, melakukan semuanya secara manual. Subuh sebelum karyawannya datang rei telah mengendarai motornya menuju peternak lele untuk kemudian ia olah menjadi bakso lele. Bulan ke empat usahanya mulai menurun walaupun tidak drastis, beberapa pelanggannya mungkin mulai bosan dengan menu andalan itu. Dan rei kembali memutar otaknya hingga muncullah pempek basah dan kering isi lele. Ia mulai merambah dunia internet dan membuka jasa delivery untuk kawasan tertentu,perlahan lahan usahanya mulai stabil.

Suatu waktu, tiba-tiba ditya menghubunginya dan berjanji mengunjungi café le miliknya. Pada hari yang sama ditya datang, kini ia keluar dari sebuah mobil inova, rei tersenyum bersiap menyambut kekagetan rei karena kehadirannya yang tiba-tiba. Tapi ditya begitu miris melihat keadaan sahabatnya, rei tengah melayani beberapa customernya. “wow, secepat ini datengnya, perasaan tadi baru telepon, duduk Dit!” rei memanggil salah seorang pekerjanya untuk menggantikan posisi rei melayani costomernya.

“makan ya dit, mau bakso, pempek atau… “ ditya tersenyum.

“santai ja bro… “ ditya duduk disebuah bangku yang menghadap jalanan, ia memandang kampusnya. “minum apa bro? oh gua tau, juice gluetella yan dua!” rei berbicara pada karyawannya.

“apa tuh gluetella, rei jadi maksud lo bakso itu bakso lele??? Edan, gimana ni usaha?”

“Alhamdulillah, ada dua menu yang diminati, pempek dan bakso ini! Belum sesukses lo lah bro, perjalanan gua masih panjang, by the way, mobil udah innova tuh, mantap!!!” ditya tersenyum.

“lumayanlah, baru kredit, hahahaaa!” mereka tertawa.

Seporsi bakso telah tersedia dihadapan ditya, lelaki itu tak banyak bicara, melihat keadaan sahabatnya yang tak seperti dipikirannya membuat ia begitu tak tega. Style berpakaian rei masih tak berubah, wajahnya masih setampan dulu, tapi ada sedikit kemirisan dengan keadaanya.

“lo ga mau kerja bro, kantor gua lagi buka lowongan lagi tuh!” Tanya ditya sebelum melahap baksonya.

Rei tersenyum mendengarnya, sahabatnya yang kini tengah asyik menikmati bakso buatannya. “Rei lo cape-cape ngejar IPK diatas 3,5, kerja begini doang? Ga sayang sama uang bokap nyokap lo yang udah mereka gunain buat bayar uang semester???” sejenak ia melihat wajah rei yang masih tersenyum, kemudian kembali melahap bakso dihadapannya.

“gua bukan mau ngeguruin, kebetulan di perusahaan gua sekarang lagi butuh karyawan lagi. Tesnya gampang, gua yakin lo bisa bro! dari pada kaya gini, dagang bakso doang, gua sedih ngeliat lo bro, inget waktu kita kuliah.” Ditya menepuk pundak sahabatnya.

“gua bahagia dit!”

—-

Ditya kembali bersama innovanya, ia tak tahu harus melakukan hal apa untuk sahabatnya yang satu ini. Dari hari ke hari ia semakin sibuk, hampir setiap hari ia lembur di perusahaan menangani proyek-proyek furniture pesanan. Hubungannya dengan vena terasa begitu renggang karena walaupun kini mereka jadian akan tetapi waktu untuk bertemu itu selalu tak ada. Hari kerja ia baru pulang sekitar jam 8, ditambah macet ia baru bisa sampai rumah pada pukul 10. Weekendnya selalu gagal karena setiap sedang berkencan teleponnya selalu berdering dari klient yang sibuk bertanya tentang proyek dan pesanan – pesanan mereka. Ditya memang belum menjadi manager, posisinya kini adalah asisten manager. Lama kelamaan hidupnya monoton, stag.

Pagi-pagi ia bangun jam 6 kemudian bersiap melajukan innovanya melewati kemacetan menuju kantornya dibilangan segitiga kuningan. Waktunya untuk kerja, kantor dan proyek. Tak dipungkiri pundi-pundi tabungannya kian bertambah. Akan tetapi waktu dan pikirannya tersita oleh masalah pekerjaan,mimpinya untuk lansir keluarnegeri setiap minggu kian tertumpuk memenuhi memori saja.

Berbeda dengan Rei, setahun bertahan untuk tidak mengutak atik laba usahanya ia berhasil membuka cabang baru di depan kampus yang tak jauh dari café le nya yang pertama. Café le-nya kini telah mendapat izin dari BPOM dan telah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI, usaha rei telah terdaftar karena kini ia membuka francaise, ia kini tak hanya bergelut pada pempek dan bakso lele. Ia mengembangkannya dengan menambah krupuk lele, siomai lele dan mulai membuka pabrik pengolahan dalam skala besar. Ia membuka kerjasama dengan pedagang-pedagang kelontong baso. Pemasok utama lelenya tetap ia pasok dari peternak lele tradisional yang ia kenal dahulu, seperti prinsipnya rei masih bertekat membuka lapangan pekerjaan yang melibatkan banyak orang, dengan kata lain misinya adalah mengurangi jumlah pengangguran yang ada.

Hari-hari berlalu, hidup menawarkan pilihan pada kita untuk menjadi seorang Ditya yang lain atau menjadi seorang seperti Rei. Akan ada hasil yang berbeda dari setiap pilihan yang kita ambil, akan ada pula resiko yang harus kita hadapi disetiap pilihan yang kita jalani. Sadar atau tidak sadar setiap hari waktu kita berkurang. Dan berbahagialah orang – orang yang telah berhasil memilih jalan hidupnya dengan benar dan mewarnai waktu hidupnya dengan berjuta pengalaman, sekalipun pengalaman itu menyakitkan.

– Selesai –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s